Wahh ternyata not too bad bagaimana sensasi mendaki gunung batur, gunung berapi tertinggi ke dua di bali ini. Bahkan saya sebenarnya tidak percaya kalau saya pernah di atas gunung batur itu.
Gunung Batur Kintamani Bali

Sensasi Mendaki Gunung Batur, Gunung Berapi tertinggi ke dua di bali. Dulu saya penasaran banget yang namanya gunung berapi dan bagaimana mendakinya. Ternyata ada gunung berapi di bali yang bisa di pendaki. Salah satunya Gunung Batur yang letaknya di Kintamani.

Sekitar dua jam dari Denpasar, akhirnya sampailah kami. Begitu sepi dan gelap di sekitar hotel. Hanya terlihat beberapa orang sedang menyantap makan malam mereka di lobby hotel. Udara pun sangat dingin, kira kira 13 celcius.
Pagi pun tiba dengan cepatnya, dan harus siap siap untuk melakukan rencana kami. Saat mata masih ngantuk, dan membuka balkoni kamar, tiba tiba mata saya langsung melek setelah melihat apa yang di depan saya saat itu!!
Betapa tidak, pagi pagi begini sudah di beri kejutan dengan pemandangan yang begitu menakjubkan! Dengan langit  yang cukup cerah, namun sedikit mendung saat itu, menambah keindahannya yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Indonesiaku memang beautiful!

 

 

Awan awan terlihat jelas melewati di atas gunung yang masih aktif itu. Di beberapa titik gunung di lihat dari kejauhan, ada warna gunung yang tidak biasanya. Ternyata salah satu staff hotel bilang bahwa itu adalah bekas lava saat gunung itu meletus.
 
Di ketahui, sejak  tahun 1804 hingga 2005, gunung berapi ini telah meletus sebanyak 26 kali. Tinggi 1717 di atas permukaan laut dan mempunyai 3 kerucut gunung berapi dengan masing masing kawahnya. Gunung Batur ini masih aktif lho ya!
Mungkin anda suka :
Lokasi gunung batur juga unik yaitu di kelilingi oleh perbukitan. Dan ada danau namanya Danau  Batur di sebelah tenggaranya, yang membentuk seperti bulan sabit. Di Danau Batur itu juga ada tempat wisata Hot Spring, yang biasanya para turis setelah mendaki gunung, mereka langsung menuju ke Hot Spring ini untuk  sekedar relaksasi dan mengembalikan stamina setelah mendaki gunung. Kami juga akan kesana setelah pendakian nanti.
Gunung berapi di bali, sensasi mendaki gunung Batur
Abaikan wajah saya yang lagi cemberut ya 😀
Terlihat dari balkoni, gunung berapi itu tidak begitu curam untuk di pendaki. Membuat kami semakin yakin kalau kami bisa mendakinya. Dan tidak sabaran untuk merasakan bagaimana Sensasi Mendaki Gunung Batur, Gunung Berapi tertinggi ke dua di bali ini.
Sekitar satu jam lagi supir yang sudah kami pesan, akan datang menjemput kami menuju ke kaki Gunung Batur untuk bertemu dengan pemandu kami yang akan mengantarkan kami ke salah satu gunung berapi di bali yang masih aktif ini.
Kami pun sempatkan sarapan di sekitar  lobby hotel sebelum supir datang.
Tidak begitu banyak orang di cafe sederhana ini. Waktu itu sudah jam 10 pagi, jadi kemungkinan mereka semua sudah melakukan aktifitas masing masing.
Dengan di suguhi pemandang Gunung Batur yang indah dan menantang, membuat kami betah duduk di kafe ini lama lama. Fresh airnya pun begitu terasa walaupun agak dingin. So quite dan tenang. Sangat pas disini buat kamu yang ingin liburan weekend sekedar untuk ketenangan sesaat, setelah kerja non stop di perkotaan dan ingin sejenak break dari kebisingan.
Gunung berapi di bali, sensasi mendaki gunung Batur
Pemandangan Gunung Batur dilihat dari kafe
Akhirnya lima menit sebelum jam 11, supir kami pun datang dengan mobil avanza nya warna hitam. Kami pun bergegas untuk mengambil barang keperluan.

Jalan yang berlika liku dan naik turun menuju ke kaki Gunung Batur, membuat kepala saya agak sedikit pusing but masih ok.

Sampai di sana, kami  di pertemukan dengan pemandu kami yang sudah menanti namanya pak Wayan. Beliau adalah seorang pemandu yang setiap paginya  sekitar jam tiga pagi, katanya sudah mengantarkan pengunjung untuk mendaki Gunung Batur untuk melihat matahari terbit dari puncak gunung. Setiap pagi lho ya ! Wow pekerjaan yang keras menurut saya.

Gunung berapi di bali, sensasi mendaki gunung Batur
Masih di kaki Gunung Batur

Kami pun berjalan mengikuti arahan pak Wayan melewati jalan setapak yang kira kira mempunyai lebar kurang lebih dua meteran yang berpasir dan berdebu. Tidak lama berjalan dari kaki gunung, kami pun mulai merasakan jalan yang agak naik. Kicauan burung burung pun ikut menemani pendakian kami.

Seperti halnya hutan, banyak pohon pohon besar maupun sedang dan kecil tumbuh lebat di hutan gunung berapi di bali ini. Cukup rindang di jalur perjalanan, membuat pendakian ini tidak begitu terasa berat karena tidak terlalu kepanasan. Kami pun menemui beberapa tempat pura di sepanjang perjalanan.
Baca juga :
Sekitar jalan 40 menit dari kaki gunung, disana ada sebuah warung kecil yang menyediakan minuman ringan dan snack untuk para pendaki yang ingin berhenti sejenak atau hanya sekedar membeli minuman sebelum melanjutkan pendakian. Terkadang kami pun berpapasan dengan segerombolan orang orang bule yang sedang menuruni gunung.
Tak terbayang juga, saya kira gunung tertinggi nomor dua di bali ini, tidak begitu susah untuk di pendaki karena di lihat dari balkoni hotel, gunung ini tidak curam. Ehh baru sadar orang namanya juga gunung pasti masih tetap saja susah dan memerlukan banyak tenaga untuk mendaki walaupun tidak curam curam amat 😀
Sekitar 1.30 jam dari kaki gunung, kami pun akhirnya sampai di atas, tapi belum final. Kami berhenti di suatu titik di mana disana ada sebuah gubuk bambu dan beberapa bangku kayu di sekitarnya. Beberapa pendaki pun ada disana. Di depan gubug itu, kami di sajikan dengan pemandangan yang menakjubkan. Danau Batur yang letaknya di bawah Gunung Batur, terlihat jelas  dengan bentuknya yang seperti bulan sabit.
Gunung berapi di bali, sensasi mendaki gunung Batur
Danau Batur terlihat dari atas Gunung Batur
Tidak lama setelah kami istirahat, kami pun melanjutkan pendakian. Di area sini, tanjakan agak sedikit lebih curam. Terlihat banyak  batu batu besar di sekitar sini yang akan mengantarkan kami ke atas sana. Tidak seperti jalan sebelumnya yang berpasir dan sedikit lebih rata namun licin karena berdebu dan pasir.
Akhirnya 10 menit mendaki babatuan itu, kami pun sampai di titik final!!


Gunung berapi di bali, sensasi mendaki gunung Batur

Ternyata masih banyak orang orang yang masih di puncak Gunung Batur. Sepertinya mereka masih betah lama lama disini, sambil memandangi pemandangan indah dan menghirup udara yang segar di atas gunung berapi ini.
 
Mereka duduk berjejeran di atas bangku bambu yang di sediakan, pas di depan gubug bambu sederhana itu. Monyet monyet pun banyak terlihat, berlarian bermain di sekitar sini sambil  menunggu para visitor untuk memberi mereka makan.
Gunung berapi di bali, sensasi mendaki gunung Batur
Kawah Gunung Batur bali
Kawah besar itu terlihat di tengah  tengah kerucut gunung, dengan uap nya yang mengepul di beberapa lokasi sekitarnya. Batu batu kerikil terlihat banyak di dalam kawah itu. Tapi saya pun tidak berani dekat dekat dengah kawah itu, karena takut terpeleset.
Gunung berapi di bali, sensasi mendaki gunung Batur
Uap mengepul dari kawah Gunung Batur

Hanya beberapa meter dari kami berdiri, pak Wayan mengajak kami untuk menuruni jalan yang tidak begitu susah untuk di lewati. Di sana ada sebuah gua. Di depan mulut gua yang gelap gulita itu, ada tempat sembahyaangan.

Mungkin anda suka :

Ada banyak bunga bunga bekas sembahyangan, yang kemungkinan gua ini baru ada acara sembahyangan. Tapi tidak ada seorang pun yang boleh memasukinya. Karena gua ini gua suci. Jadi  hanya orang suci saja yang bisa memasukinya itu kata pak wayan.
Angin di atas sini lama lama semakin terasa dingin. Langit pun kelihatannya agak mendung dan gelap. Saat itu baru jam dua setengah siang. Kami pun bergegas untuk turun gunung sebelum hujan datang.
Dan masih tidak begitu sore untuk pergi ke Hot Spring untuk merelaksasi badan dan kaki setelah pendakian. Hot Spring ini tidak jauh dari kaki gunung Batur. Tempatnya persis di sebelahnya Danau Batur.
Di bali banyak sekali travel agent yang menawarkan pendakian ke Gunung Batur ini. Seperti di sepanjang jalan di kuta, legian, seminyak, berjejer di pinggir jalan  menawarkan aktivitas ke Gunung Batur untuk melihat matahari terbit di pagi hari
 
Itu semua sudah biaya dengan pemandunya dan transportasi. Biaya nya pun  lebih mahal an jika  kamu tinggal di sentral karena harus bayar transportasinya juga menuju ke Gunung Batur.
mungkin anda suka :
Paket  mendaki untuk melihat matahari terbit itu, kamu  harus sudah siap di jemput di jam 1.30 malam. Tapi itu tergantung lokasi tempat tinggal kamu. Membutuhkan sekitar 2 jam perjalanan dari sentral ke kaki Gunung Batur.
 
Atau bisa kamu menginap di sekitar Gunung Batur seperti kami, jadi biaya nya akan lebih sedikit ringan, dan kamu pun tidak harus bangun jam 1 malam. Kami pilih mendaki di siang hari karena kami tidak bisa bangun jam 1.30 mlm.
Gunung berapi di bali ini adalah gunung suci menurut kepercayaan umat hindu. Jadi untuk mendaki nya, ada pantangannnya, yaitu wanita yang sedang datang bulan tidak boleh mendakinya karena alasan agama hindu.
Wahh ternyata not too bad loh bagaimana sensasi mendaki gunung batur, gunung berapi tertinggi ke dua di bali ini! Bahkan saya sebenarnya tidak percaya kalau saya pernah di atas gunung batur itu ;D